Feb 2, 2012 - Ekonomi    No Comments

Mengapa yang miskin tetap miskin?

Sejak jaman baheula, selalu ada orang miskin. Berbagai teori tentang kemiskinan sudah dilontarkan. Mulai kemiskinan kultural, kemiskinan struktural, teori ketergantungan, teori pendapatan, dsb. Salah satunya, dalam teori ekonomi makro, dikenal marginal propensity to consume (MPC) dan marginal propensity to save(MPS). Konsep ini memang dalam konteks negara, tapi bisa juga digunakan dalam keuangan keluarga.

MPC atau kecenderungan mengonsumi marjinal adalah peningkatan konsumsi tiap peningkatan pendapatan. Sedangkan MPS atau kecenderungan menabung marjinal adalah peningkatan tabungan tiap peningkatan pendapatan. MPC dan MPS bersifat substitutif. Artinya semakin besar MPC akan mengakibatkan semakin kecil MPS, begitu juga sebaliknya. Sederhananya, semakin banyak orang berbelanja, semakin sedikit yang ia tabung, begitu juga sebaliknya. Karena tiap peningkatan pendapatan akan dibagi untuk mengonsumsi dan menabung, maka MPS + MPC = 1.

MPC orang miskin hampir 1. Semakin kaya seseorang, semakin kecillah MPC-nya. Artinya, hampir semua pendapatan orang miskin habis untuk konsumsi. Begitu juga dengan pertambahan penghasilannya, hampir semuanya untuk konsumsi, hampir tidak ada tambahan penghasilan yang ditabung. Sebab, penghasilan orang miskin tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Bisa dibayangkan ada keluarga dengan penghasilan 300 ribu rupiah perbulan, cukupkah untuk memenuhi kebutuhannya?

Sementara orang kaya cukup longgar keuangannya untuk ditabung. Setiap memeroleh tambahan penghasilan, selalu saja ada bagian yang disisihkan untuk ditabung, tidak semuanya dihabiskan untuk berbelanja. Semakin kaya seseorang semakin besarlah MPS-nya. Bisa dibayangkan konglomerat yang penghasilannya 30 milyar per bulan, kemudian mendapatkan penghasilan tambahan sebesar 5 milyar. Akankah dia menghabiskan semuanya untuk hura-hura?

Jika mau lebih detil lagi, tambahan penghasilan masih dapat dirinci menjadi tambahan permanen atau sementara. Perilaku berbelanja tentu berbeda bagi seseorang yang menerima kenaikan gaji tetap, dibandingkan dengan ketika dia mendapatkan bonus penjualan, warisan atau nomor togelnya tembus.

Mengapa orang miskin tetap miskin? Karena dia tidak pernah dapat menabung, karena dia tidak punya cukup ruang gerak. Jangankan menginvestasikan uang, menginvestasikan waktunya saja dia tidak mampu. Kalau toh dia mampu sedikit menabung, tabungan itu lebih merupakan konsumsi yang tertunda sebentar. Karena, hanya beberapa bulan kemudian, dia harus membelanjakannya untuk biaya sekolah anaknya, untuk mudik waktu lebaran, untuk membayar kontrak rumah, dsb.

Berbeda dengan orang kaya. Bisa jadi konsumsinya sekarang, merupakan tabungan untuk masa depannya. Ketika dia membeli rumah kedua dst, ketika dia kuliah pascasarjana, ketika dia menyuap pemilih ketika pemilu, dst. Toh itu hanya uang ponten saja. Toh pengeluaran itu tidak mengganggu kebutuhan pokoknya. Toh itu hanya sebagian saja dari tambahan penghasilannya. Masih ada bagian lain untuk ditabung.

Terkait dengan strategi pemerintah menyangga pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi. Perlu diserukan kepada orang miskin, Anda tidak termasuk di dalamnya. Jangan ikut-ikutan meningkatkan konsumsi Anda, sambil merasa sudah membantu pemerintah menopang perekonomian. Biarkan itu menjadi tugas orang kaya. Biarkan mereka menghambur-hamburkan uangnya. Tidak usah iri. Karena Anda tidak akan turut menikmati pertumbuhan yang 5% itu, padahal mungkin Anda sudah terlanjur meningkatkan 50% konsumsi Anda.

Wahai orang miskin sedunia. Jangan makan lebih mahal. Jangan ganti henponmu, sebelum rusak. Jangan termakan iklan. Jangan tergoda rayuan diskon. Jangan ngopi di cafe, kecuali ditraktir. Jangan beli merk baju. Jangan lama2 mainan fesbuq. Kendalikan MPC-mu. Jangan tunggu fatwa konsumtif itu haram, baru kalian berhemat.

Mungkin yang paling cocok bagi orang miskin, mengikuti petuah Max Weber melalui etika protestannya: bekerja keras, berhemat, berjalan lurus, berhati-hati. Semoga Anda tidak menjadi semakin miskin. Syukur-syukur kalau jadi lebih kaya.

Yet Another Related posts:

  1. 5 Hal yang Harus Dihindari dari Sebuah Tanda Tangan
  2. Mengapa Emas Begitu Berharga?
  3. 8 Bahan Makanan yang Dapat Memerangi Selulit
  4. 10 Tips Diet Pengikis Lemak
  5. Ciri-Ciri Pengembang Nakal

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!


− 1 = one

CommentLuv badge