Kemilau Bisnis Lippo Karawaci

S c r o l l D o w n

Prospek industri properti nasional masih menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan. Kalangan pengembang pun berlomba-lomba
menambah cadangan lahan (land bank) guna memuluskan rencana ekspansi.
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) bisa dibilang memiliki modal kuat untuk memanfaatkan pertumbuhan sektor properti nasional. Perseroan memiliki cadangan lahan luas yang sanggup menopang kinerja dalam 15 tahun ke depan. Tak hanya itu, perseroan juga memiliki unit bisnis kesehatan yang memiliki outlook cerah. Bisnis manajemen aset yang dikelola perseroan melalui Grup REIT juga diyakini menawarkan gain potensial. Dalam lima tahun ke depan nilai aset yang dikelola ditargetkan mencapai US$ 3-5 miliar. Agresivitas Lippo Karawaci memompa kinerja operasional dan keuangan tentunya bisa berdampak positif terhadap kinerja sahamnya. Maka tak heran jika sejumlah perusahaan sekuritas memberikan rating positif untuk LPKR.
Analis OSK Nusadana Securities Lydia Suwandi menilai, pertumbuhan majemuk tahunan (compound average growth rate/CAGR) pendapatan perseroan bisa mencapai 18% selama 2010-2012. “Target itu pun sangat konservatif dengan memperhitungkan diskon 30% dari net asset value (NAV) Rp 1.435 per saham,” kata dia dalam riset yang dipublikasikan belum lama ini. Dia menilai, Lippo Karawaci semakin agresif dalam mendongkrak kinerja dan aset di tengah atraktifnya pertumbuhan properti dalam negeri. Agresivitas perseroan terlihat dari beragamnya portolio properti, mulai dari residensial, mal, kesehatan, hingga perhotelan.
“Dengan tingginya pendapatan berkelanjutan (recurring income) dan strategi yang solid, prospek grup ini cukup cerah,” kata dia.
Dia mencatat, lebih dari 50% pendapatan Lippo Karawaci dalam lima tahun terakhir berasal dari recurring income seperti mal,
fasilitas kesehatan, perhotelan dan properti, serta manajemen gedung. Sebesar 79% dari NAV LPKR masih berasal dari pengembangan properti.
Lippo Karawaci juga terus memperkuat divisi bisnis yang dimiliki. Di divisi bisnis residensial, cadangan lahan mencapai 1.542
hektare (ha) di sejumlah lokasi utama di Jakarta, Jawa Barat, dan Makassar. Perseroan memiliki hak pengembangan 7.326 ha dengan total lahan diakuisisi mencapai 4.797 ha.

Dengan asumsi penjualan sekitar 100 ha per tahun, cadangan lahan ini seharusnya cukup untuk pengembangan selama 10-15 tahun. Dengan demikian, perseroan akan menghasilkan pendapatan tahunan sekitar Rp 1,3 triliun selama tiga tahun ke depan. Lippo Karawaci saat ini sedang menggarap dua pengembangan bangunan bertingkat terintegrasi skala besar di Kemang Village dan St Moritz di atas lahan total 20,2 ha.  Secara keseluruhan, perseroan telah meluncurkan sebanyak 11 menara dan mengumpulkan penjualan marketing senilai Rp 3,6 triliun hingga Juni 2011.

Prospek Kawasan Industri
Di luar itu, kinerja Lippo Karawaci juga ditopang penjualan kawasan industri. Permintaan untuk lahan kawasan industri di Indonesia
terus menguat sejak 2010. Penjualan lahan industri menyumbang sekitar 43% dari prapenjualan (pre-sales) pada enam bulan pertama 2011 senilai Rp 1,6 triliun. Lippo Karawaci memasuki sektor ini melalui anak usahanya PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).

Dalam pandangan dia, harga lahan industri Lippo Cikarang terus melesat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, harga lahan industri
mencapai US$ 60/m2, lebih tinggi 30% dibandingkan tahun lalu sebesar US$ 44,5/m2. Namun, harga itu masih diskon 15%  dibandingkan kawasan industri terdekat, MM 2100. “Kami yakin, nilai properti perusahaan pasti tumbuh setelah akses tol langsung ke kawasan ini terwujud. Perusahaan memiliki 51,6% saham di LPCK, dan sekitar 8% estimasi NAV Lippo Karawaci berasal dari pengembangan proyek di Cikarang,” papar Lydia.
Di sisi lain, ekspansi Lippo Karawaci mengandalkan pendanaan sendiri. Perseroan telah memiliki proyek senilai US$ 1 miliar dalam pengembangan, termasuk 20 rumah sakit dan 15 mal baru. Proyek-proyek ini diharapkan memberikan imbal hasil 20%. Strategi lainnya, saat proyek tersebut stabil, perseroan akan membangun ulang (recycle) properti melalui real estate investment trust
(REIT).
Saat ini, tipe properti yang bisa dibangun ulang adalah rumah sakit (melalui FIRST REIT) dan mal (melalui Lippo Maple Tree REIT
Trust). Jika semua berjalan sesuai rencana, membangun ulang sebuah rumah sakit atau mal melalui REITs akan menghasilkan
pendanaan yang cukup untuk membangun dua rumah sakit dan dua mal lainnya.
Analis Bahana Securities Natalia Sutanto menyatakan, pendapatan dari bisnis rumah sakit tahun ini diprediksi naik 32% pada 2011
menjadi Rp 1,4 triliun. Hal itu dipicu dibukanya MRCCC di Jakarta dan Siloam Balikpapan. Pada 2012, perseroan akan membuka dua rumah sakit baru di Tangerang dan Makassar. Sejalan dengan itu, pendapatan bisnis ini ditaksir tumbuh 34% menjadi Rp 1,8 triliun.
“Lippo adalah pemain terbesar di bisnis rumah sakit nasional. Kami menaikkan proyeksi pendapatan 2012 menjadi Rp 4,6 triliun
karena membesarnya sumbangan dari bisnis rumah sakit,” kata dia. Di luar itu, dia menegaskan, bisnis penjualan lahan industri juga terus meningkat. Tahun ini penjualan lahan industri dan perumahan perseroan diprediksi bisa mencapai Rp 600 miliar.

Naikkan Target
OSK Nusadana memberikan rekomendasi buy saham LPKR dengan target harga Rp 1.000 hingga akhir 2011. Ini berdasarkan diskon
NAV saham sebesar Rp 1.435 per saham. Target harga tersebut menawarkan potensi gain 37% dari level saat ini. Sedangkan Bahana menaikkan rating LPKR dari hold menjadi buy dengan target harga Rp 800.

Leave a Reply

Your email address will not be published.