Ideologi dalam Negara

Negara sebagai sebuah organisasi, tidak hanya membutuhkan legitimasi formal. Negara juga membutuhkan legitimasi epistemik. Legitimasi epistemik itu berwujud ideologi. Tanpa legitimasi epistemik yang memadai, negara rentan menuju perpecahan.

Ideologi yang dianut sebuah negara, biasanya berwatak ideologis. Barangkali hampir tidak ada negara menjadikan ideologinya sebagai sebuah tawaran filsafat politik yang fleksibel terhadap perubahan jaman. Negara cenderung mempertahankan stabilitas dan status quo. Karenanya negara membutuhkan watak ideologis dari ideologi yang dianutnya.

Dengan menjadi ideologis, maka ideologi yang ada telah, sedang dan akan digunakan negara untuk memanipulasi kesadaran rakyatnya. Negara memang bukan pemerintah. Pemerintah juga bukan negara. Dalam hal hegemoni ini, pemerintah bersama dengan para pihak yang ingin berkuasa sangat berkepentingan dengan manipulasi kesadaran rakyat.

Para elit yang mengetahui bahwa negara perlu stabilitas, meskipun mengambil posisi sebagai oposisi terhadap pemerintah berkuasa, tetap saja mendengang-dengungkan ideologi yang berwatak ideologis. Jadi baik pemerintah maupun oposisi merupakan sindikat manipulator kesadaran politis rakyat. Kekuasaan hanya bertukar-tukar antar elit.

Mobilitas politik vertikal hampir pasti tidak akan mengubah watak ideologis ideologi negara. Sebab para pemain kekuasaan telah membangun sistem seleksi yang begitu ketat. Sehingga siapapun yang lolos masuk ke dalam lingkaran elit kekuasaan, tidak akan merasa perlu mengutak-utik ideologi yang sudah ada. Tak urung para profesor pun tunduk pada kekuasaan. Bila dialektika filsafat politik menjadi begitu kering, jangan pernah berharap mendapatkan alternatif.

Dengan watak kodratik ideologi negara yang demikian, maka hampir pasti tidak ada negara berideologi terbuka. Jika sepertinya sebuah negara berideologi terbuka, sesungguhnya negara tersebut sedang menjalankan sebuah mesin simulator raksasa untuk menghadapi mesin simulator tembre negara lain. Apakah negara tersebut siap mengubah ideologinya? Mungkin ya, jika ia tidak lagi menjadi penguasa dunia.

Previous Post

Next Post

Comments are closed.