<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dewara</title>
	<atom:link href="http://dewara.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dewara.com</link>
	<description>Sketsa, Mosaik, Spektrum</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 08:20:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ini Dia Pemberi Utang Terbesar AS</title>
		<link>http://dewara.com/ini-dia-pemberi-utang-terbesar-as/</link>
		<comments>http://dewara.com/ini-dia-pemberi-utang-terbesar-as/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:20:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bank]]></category>
		<category><![CDATA[asuransi]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Sentral]]></category>
		<category><![CDATA[Brasil]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[dana pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Karibia]]></category>
		<category><![CDATA[minyak]]></category>
		<category><![CDATA[reksa dana]]></category>
		<category><![CDATA[Swiss]]></category>
		<category><![CDATA[Taiwan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Washington - Amerika Serikat (AS), sang negara adidaya itu masuk dalam jajaran negara pengutang terbesar di dunia. Total utangnya kini mencapai US$ 15 triliun dan jumlahnya terus meningkat setiap saat. Batas utang AS yang legal adalah US$ 16,4 triliun dan diperkirakan secara cepat tercapai. Negara tersebut harus mengeluarkan banyak uang untuk membenahi perekonomiannya yang sempat terguncang oleh krisis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fini-dia-pemberi-utang-terbesar-as%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fini-dia-pemberi-utang-terbesar-as%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Ini Dia Pemberi Utang Terbesar AS " alt=" Ini Dia Pemberi Utang Terbesar AS " /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>Washington</strong> - Amerika Serikat (AS), sang negara adidaya itu masuk dalam jajaran negara pengutang terbesar di dunia. Total utangnya kini mencapai US$ 15 triliun dan jumlahnya terus meningkat setiap saat. Batas utang AS yang legal adalah US$ 16,4 triliun dan diperkirakan secara cepat tercapai.<span id="more-473"></span></p>
<p>Negara tersebut harus mengeluarkan banyak uang untuk membenahi perekonomiannya yang sempat terguncang oleh krisis finansial tahun 2008 silam. AS pun berusaha mendapatkan uang untuk itu, salah satunya dengan menerbitkan surat utang.</p>
<p>Bagi investor, surat utang pemerintah AS dipandang sebagai salah satu tempat investasi yang aman karena mereka menjamin tingkat bagi hasil berdasarkan perkiraan pendapatan pajak AS. Dari surat-surat utang yang diterbitkan pemerintah AS, sebagian besar ternyata dipegang oleh sektor swasta. Sebesar 40% dari utang pemerintah AS dipegang oleh entitas publik, termasuk juga pemerintah.</p>
<p>Siapa saja para pemberi utang terbesar AS? Berikut daftarnya seperti dikutip dari <em>CNBC,</em> Kamis (2/2/2012).</p>
<p><strong>1. Bank Sentral AS dan Intragovernmental Holdings</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 6,328 triliun (per September 2011)</li>
<li>Pemegang surat utang terbesar AS adalah Bank Sentral AS (Federal Reserve) dan juga intragovernmental holdings. Khusus untuk surat utang yang dipegang Bank Sentral AS kini mencapai nilai terbesarnya seiring ekspansi neraca keuangan. Sekitar satu dekade lalu, total kepemilikan surat berharga pemerintah AS oleh The Fed &#8216;hanya&#8217; US$ 2,5 triliun.</li>
</ul>
<p><strong>2. China</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 1,107 triliun</li>
<li>China merupakan &#8216;asing&#8217; yang menguasai surat utang AS paling banyak. Namun jumlah US$ 1,107 triliun per akhir September 2011 itu turun dibandingkan posisi per Juli 2011 yang sebesar US$ 1,173 triliun.</li>
</ul>
<p><strong>3. Investor Lain/Savings Bonds</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 1,107 triliun</li>
<li>Ini adalah kelompok pemegang surat berharga terbesar yang sangat terdiversifikasi mulai dari individu, perusahaan yang disponsori pemerintah, broker dan pialang, bank personal trusts, perumahan, savings bonds, bisnis korporasi dan non-korporasi. Meski jumlahnya secara dasar konstan sejak tahun 2000, namun untuk kategori investor lain yang lebih luas sudah mencapai 4 kali lipat setelah mencapai titik terendahnya dalam 4 tahun pada Desember 2007.</li>
</ul>
<p><strong>4. Jepang</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 1,038 triliun.</li>
<li>Jepang, salah satu partner dagang terbesar AS juga menguasai sebagian besar utang AS. Saat ini total surat utang pemerintah AS yang dikuasai Jepang mencapai US$ 1,038 triliun.</li>
</ul>
<p><strong>5. Dana Pensiun</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 842,2 miliar</li>
<li>Dana Pensiun mengelola sejumlah besar uang dan tabungan para pensiunan, sehingga harus ditempatkan pada investasi yang aman. Kelompok ini terdiri dari lembaga dana pensiun swasta dan pemerintah lokal. Kategori dana pensiun swasta juga termasuk surat berharga yang dikuasai oleh Federal Employees Retirement System Thrift Savings Plan G Fund.</li>
</ul>
<p><strong>6. Reksa Dana</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 653,5 miliar.</li>
<li>Menurut Bank Sentral AS, reksa dana merupakan pemegang utang AS terbesar ke-6 dibandingkan grup lainnya, meski jumlahnya sudah berkurang lebih dari US$ 105 miliar sejak Desember 2008.</li>
</ul>
<p><strong>7. Pemerintah Lokal dan Negara Bagian</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 484,4 miliar.</li>
<li>Jumlah investasi pemerintah lokal dan negara bagian ini masih tetap stabil sejak 2006, dengan jumlah berkisar antara US$ 484 miliar hingga US$ 576 miliar.</li>
</ul>
<p><strong>8. Inggris</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 429,4 miliar</li>
<li>Inggris menguasai US$ 429,4 miliar utang AS, namun investasi negara tersebut mengalami fluktuasi yang dramatis dalam 2 tahun terakhir. Saat ini adalah titik tertingginya (dan meningkat cepat) karena pada Juni 2008 jumlahnya hanya US$ 55 miliar.</li>
</ul>
<p><strong>9. Institusi Tempat Penyimpanan</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 284,5 miliar.</li>
<li>Kelompok ini terdiri dari bank komersial, bank tabungan dan koperasi kredit. Pada tahun 2011, jumlahnya mencapai 3 kali lipat dibandingkan terendah pada tahun 2008 yang hanya US$ 105 miliar. Antara Juni hingga September 2011, jumlah utang kelompok ini sempat turun sekitar US$ 44 miliar.</li>
</ul>
<p><strong>10. Perusahaan Asuransi</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 150,1 miliar.</li>
<li>Kelompok ini terdiri dari perusahaan asuransi jiwa dan juga asuransi property-casualty.</li>
</ul>
<p><strong>11. Eksportir Minyak</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 232 miliar.</li>
<li>Grup eksportir minyak ini menguasai utang AS dengan kisaran US$ 204 miliar hingga US$ 236 miliar, dan nilainya dijaga sepanjang tahun lalu.</li>
</ul>
<p><strong>12. Brasil</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 206,4 miliar.</li>
<li>Dalam 2 tahun terakhir, jumlah utang AS yang dikuasai Brasil berfluktuasi, dan per Mei 2011 mencapai US$ 211,4 miliar.</li>
</ul>
<p><strong>13. Caribbean Banking Centers</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 185,3 miliar.</li>
<li>Grup ini terdiri dari institusi di Bahama, Bermuda, Cayman Islands, Netherlands Antilles, Panama dan British Virgin Islands. Jumlah utang yang dipegang kelompok ini meningkat dari US$ 106,6 miliar pada Juni 2008 menjadi sekitar US$ 185,3 miliar pada saat ini. Namun jumlah terkini lebih rendah dibandingkan rekor pada Maret 2009 yang sebesar US$ 213,6 miliar.</li>
</ul>
<p><strong>14. Taiwan</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 149,6 miliar.</li>
<li>Dalam 2 tahun terakhir, jumlah utang AS yang dimiliki Taiwan bisa melampaui Rusia dan Hong Kong. Hingga saat ini, Taiwan menguasai surat utang pemerintah AS senilai US$ 149,6 miliar, dibandingkan Rusia yang hanya US$ 89,7 miliar. Jumlah surat utang AS yang dikuasai Rusia turun tajam karena negara tersebut melakukan diversifikasi.</li>
</ul>
<p><strong>15. Swiss</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai utang AS: US$ 113,9 miliar.</li>
<li>Jumlah surat utang AS yang dikuasai Swiss pernah mencapai rekor US$ 147,5 miliar atau sekitar 28% dari PDB negara tersebut pada Agustus 2011. Namun kini jumlahnya sudah turun menjadi US$ 113,9 miliar. Swiss berhasil melampaui Hong Kong, Rusia dan Kanada untuk jumlah surat utang AS dalam beberapa tahun terakhir.</li>
</ul>
<p>Sumber: finance.detik.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/ini-dia-pemberi-utang-terbesar-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Manusia?</title>
		<link>http://dewara.com/menjadi-manusia/</link>
		<comments>http://dewara.com/menjadi-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Manusia, siapakah dia? Pertanyaan tersebut nampak sederhana, namun tidaklah mudah menemukan jawabannya. Meskipun kita sangat yakin bahwa diri kita adalah manusia, ternyata kita tidak terlalu mengenal diri kita sendiri. Sepanjang sejarah peradaban manusia, berbagai upaya telah dilakukan, hanya untuk mencari tahu: siapakah manusia itu? Secara biologis, manusia diklasifikasikan ke dalam kelas Mammalia dengan suku Primat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fmenjadi-manusia%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fmenjadi-manusia%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Menjadi Manusia?" alt=" Menjadi Manusia?" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Manusia, siapakah dia? Pertanyaan tersebut nampak sederhana, namun tidaklah mudah menemukan jawabannya. Meskipun kita sangat yakin bahwa diri kita adalah manusia, ternyata kita tidak terlalu mengenal diri kita sendiri. Sepanjang sejarah peradaban manusia, berbagai upaya telah dilakukan, hanya untuk mencari tahu: siapakah manusia itu?<span id="more-470"></span></p>
<p>Secara biologis, manusia diklasifikasikan ke dalam kelas Mammalia dengan suku Primat, yaitu suku kera.Kemudian manusia termasuk ke dalam subsuku Anthropoid, infrasuku Hominoid, keluarga Homo Sapiens, dengan empat ras pokok, (Australoid, Mongoloid, Caucasoid dan Negroid) dan beberapa ras khusus<a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftn3">[1]</a>.</p>
<p>Meskipun demikian, manusia bukanlah sekedar makhluk biologis seperti hewan. Sebab manusia juga dipengaruhi lingkungan (seperti tumbuhan), tunduk di bawah hukum-hukum fisik (seperti benda) dan yang paling penting manusia adalah makhluk rohani (berpikir, berperasaan dan berkemauan).</p>
<p>Pendek kata, manusia adalah makhluk multi dimensi. Meskipun di jaman industri ini, manusia cenderung terjebak dalam dimensi produksi-konsumsi saja. Seperti kritik Herbert Marcuse dalam bukunya <em>One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society </em>(1964)<a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftn4">[2]</a>, berbagai dimensi kehidupan manusia akhirnya tunduk kepada logika industri yang ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p>Perjalanan panjang pencarian arti kemanusiaan diwarnai dengan berbagai corak pemikiran filosofis. Rene Descartes memaknai kemanusiaannya dengan <em>cogito</em> (aku berpikir), sedangkan Karl Marx melihat keberadaan manusia ketika ia bekerja. Gabriel Marcel berpendapat bahwa manusia ada ketika mengalami perjumpaan dengan manusia yang lain, sedangkan Jean Paul Sartre menganggap orang lain adalah neraka. Padahal Marcel dan Sartre sama-sama berhaluan eksistensialis.</p>
<p>Kristalisasi berbagai bangunan pemikiran berujung kepada berbagai predikat yang disandang manusia. Manusia disebut juga sebagai <em>animal rationale </em>(makhluk rasional), <em>animal loquens </em>(makhluk berbicara), <em>symbolic animal </em>(makhluk bersimbol),<em>zoon politikon </em>(makhluk politik), <em>homo faber </em>(makhluk bekerja), <em>ethical being</em>(makhluk etis), <em>metaphisical being </em>(makhluk metafisis), <em>aesthetical being </em>(makhluk estetis), dsb.</p>
<p>Kerumitan manusia menjadikannya makhluk yang paradoksal. Paradoks merupakan kesatuan dari dua kebenaran yang bertentangan<a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftn5">[3]</a>. Paradoks tidak sama dengan kontradiksi. Dalam kontradiksi, jika yang satu benar, yang lain harus salah. Manusia selalu mengalami ketegangan abadi dalam hidupnya: bebas-terikat, jasmani-rohani, individual-sosial, fana-baka, empiris-rasional, material-spiritual, dsb. Menjadi paradoks adalah semanusiawimanusiawinya manusia.</p>
<p>Selain paradoksal manusia juga merupakan sebuah misteri<a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftn6">[4]</a>. Tidak akan pernah bisa tuntas dipahami. Manusia harus terus menerus merefleksikan dirinya agar ia menjadi manusia. Menjadi manusia dapat berarti terus menerus mencari dirinya (<em>endless searching</em>).</p>
<p>Pada masa renaisans, banyak orang mengira kita telah menemukan manusia. Namun segera setelah ia ditemukan, ia mati. Hanya kurang dari setengah milenium, umur manusia. Ketika manusia merasa telah menemukan dirinya, ternyata ia memang sedang mendapati dirinya sekarat. Modernisme mendapat tantangan filosofis yang sangat berat dari postmodernisme.</p>
<p>Humanisme yang begitu agung, ditantang dengan sangat lantang oleh nihilisme, anak kandungnya sendiri. Friedrich Nietzsche memproklamirkan matinya manusia dalam<em>Ecce Homo</em><a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftn7">[5]</a>:</p>
<p>Akulah yang pertama menemukan kebenaran</p>
<p>… akulah yang pertama merasakan dengan indera</p>
<p>– mencium – dusta sebagai dusta</p>
<p>… telah kupilih untuk diriku sendiri kata imoralis</p>
<p>sebagai marka pembeda dan lencana kehormatan</p>
<p>aku bangga memiliki kata ini</p>
<p>yang mempersiapkan aku melawan segenap kemanusiaan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Manusia mati oleh manusia. Tidak jelas lagi apakah ini tragedi atau komedi.</p>
<p>Di sinilah peran filsafat manusia, memberi kita ruang untuk menggambarkan peta pemikiran kemanusiaan sedetil mungkin, meskipun ia tidak pernah bisa mengalahkan waktu. Segenap upaya penceritaan menjadi terlambat bagi lompatan peradaban, namun setidaknya ia masih menyisakan serangkaian kisah yang “menghibur” selama hidup kita.</p>
<p>Begitu rumitnya menjadi manusia. Seluruh manusia yang pernah ada di muka bumi ini tidak berhasil merumuskan manusia. Oleh karenanya, pergulatan itu relevan kapanpun dan dimanapun. Bahkan sampai Yesus -sang anak manusia itu- pun harus bertanya kepada kita “… siapakah Aku ini?”<a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftn8">[6]</a>. Menjawabkah kita?</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftnref3">[1]</a> Lihat Koentjaraningrat, <em>Pengantar Ilmu Antropologi</em>, Aksara Baru, Jakarta, 1986. Dalam Bab 2 dijelaskan pula evolusi primat dan manusia yang menunjukkan keunikan manusia (Homo Sapiens) sebagai makhluk yang berbudaya, berbeda dengan jenis ‘manusia’ yang lain, yaitu Neandertal dan Pithecanthropus.</p>
<div><a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftnref4">[2]</a> Lihat terjemahan yang diterbitkan Bentang tahun 2000, <em>Manusia Satu-Dimensi</em>. Dalam Bab 5, 6 dan 7 dijelaskan proses penundukan dari pemikiran negatifistik menuju pemikiran positifistik, melalui rasionalitas teknologis dan logika dominasi.</div>
<div>
<p><a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftnref5">[3]</a> Lihat Adelbert Snijders, <em>Manusia: Paradoks dan Seruan</em>, Kanisius, Yogyakarta, 2004. Buku ini dapat dijadikan sebagai rujukan awal bagi semua studi antropologi filsafat. Tujuh dari sepuluh bab yang ada menjelaskan berbagai kondisi paradoks manusia.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftnref6">[4]</a> Lihat Louis Leahy, <em>Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal</em>, Gramedia, Jakarta, 1984. Buku ini membahas tujuh tema pokok filsafat manusia: kegiatan berbicara, manusia sebagai makhluk hidup, manusia dalam afektivitasnya, manusia dengan pengetahuannya, manusia yang mengerti, kehendak bebas dan jiwa manusia.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftnref7">[5]</a> Lihat terjemahan yang diterbitkan Pustaka Pelajar tahun 1998, <em>Ecce Homo, Lihatlah Dia</em>. Buku ini merupakan otobiografi Friedrich Nietzsche, nabi nihilisme yang meneriakkan bahwa Tuhan telah mati dan yang menyerukan bahwa dunia nyata hanyalah mitos. Cara berfilsafatnya yang nyentrik dan jenius, justru menjadikannya filsuf etika yang disegani, sebanding dengan raksasa-raksasa etika seperti Aristoteles dan Immanuel Kant.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://anggundewara.wordpress.com/page/2/#_ftnref8">[6]</a> Lihat Matius 16:15, Markus 8:29, Lukas 9:20. Ayat ini dapat ditafsirkan dalam beberapa cara, sebagian kalangan menafsirkan ayat tersebut sebagai representasi kegalauan eksistensi kemanusiaan Yesus.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/menjadi-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Idealis dan Pragmatis</title>
		<link>http://dewara.com/antara-idealis-dan-pragmatis/</link>
		<comments>http://dewara.com/antara-idealis-dan-pragmatis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:33:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[idealis]]></category>
		<category><![CDATA[pragmatis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Dulu aku mengira, menjadi idealis itu bagus, menjadi pragmatis itu jelek. Aku menganggap keduanya sebagai entitas yang berbeda dan tak mungkin bersentuhan. Idealis berarti mengandaikan sesuatu yang idiil, sehingga lebih tampak universal dan trensenden. Sedangkan pragmatis terkait dengan kepentingan, sehingga lebih tampak egois dan parsial. Setelah melalui pergumulan dengan tuhan dan hantu, baru aku menemukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fantara-idealis-dan-pragmatis%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fantara-idealis-dan-pragmatis%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Antara Idealis dan Pragmatis" alt=" Antara Idealis dan Pragmatis" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dulu aku mengira, menjadi idealis itu bagus, menjadi pragmatis itu jelek. Aku menganggap keduanya sebagai entitas yang berbeda dan tak mungkin bersentuhan. Idealis berarti mengandaikan sesuatu yang idiil, sehingga lebih tampak universal dan trensenden. Sedangkan pragmatis terkait dengan kepentingan, sehingga lebih tampak egois dan parsial.<span id="more-468"></span></p>
<p>Setelah melalui pergumulan dengan tuhan dan hantu, baru aku menemukan perspektif yang lain dalam memandang keduanya. Seseorang bisa menjadi idealis atau pragmatis dengan cara yang idealis atau pragmatis juga. Jadi idealis atau pragmatis bisa dianggap sebagai kata benda ataupun kata sifat. Sebagai kata benda, mereka menjadi keadaan yang dituju. Sedangkan sebagai kata sifat, mereka menjadi cara mencapai tujuan.</p>
<p>Dus, dalam hal ini terdapat 4 jenis manusia:</p>
<p>1. Orang yang menjadi idealis secara idealis</p>
<p>Orang jenis ini bisa dibilang naif dan platonis. Sebagian besar aspek hidupnya terkait dengan ide atau hal2 yang idiil. Dia ingin mencapai keadaan ideal dengan cara yang ideal pula. Hampir pasti dia tidak akan kaya. Karena dia tidak akan menganggap penting kekayaan dan tidak akan meluangkan waktu untuk mengejar kekayaan.</p>
<p>2. Orang yang menjadi idealis secara pragmatis</p>
<p>Orang jenis ini cocok menjadi politisi dalam arti luas. Dia mengagumi kondisi ideal, namun dia tidak mengerti mengapa kondisi tersebut dianggap ideal. Dia mengantongi saja secara serampangan, idealisme yang sempat ia tahu. Kemudian dia meyakinkan orang banyak akan pentingnya menuju kondisi ideal tadi. Meskipun dia sendiri tidak pernah menguji, apakah idealisme tersebut tahan banting.</p>
<p>3. Orang yang menjadi pragmatis secara idealis</p>
<p>Orang jenis ini tipikal manusia modern. Dia sadar akan berbagai ide di sekitarnya. Dia mampu memilah dan memilih. Memilah dan memetakan berbagai tipologi idealisme, untuk kemudian memilih dan menjadikannya ‘agama’. Dia memilih dengan bebas, karenanya dia bertanggungjawab atas pilihannya. Dia sadar bahwa apapun pilihannya, akan selalu ada kontradiksi atasnya. Tidak ada idealisme yang sempurna, maka ia memilih yang paling cocok bagi dirinya.</p>
<p>4. Orang yang menjadi pragmatis secara pragmatis</p>
<p>Orang jenis ini benar2 orang lapangan. Dia tidak ambil pusing dengan harga diri dan martabat. Dia bisa mengubah prinsipnya sewaktu-waktu sesuai keadaan. Dia seorang petarung yang tidak peduli dengan nilai-nilai. Dia menghalalkan semua cara dan tujuan. Dia tidak perlu memahami dengan jelas siapa dirinya. Yang penting dia memenangkan setiap <em>battle</em>, tanpa perlu tahu apa <em>war</em> sesungguhnya.</p>
<p>Dikotomi idealis-pragmatis dapat dibandingkan dengan rasionalis-empiris, fisis-metafisis, transenden-imanen, ide-materi, universal-parsial, dsb. Dikotomi yang paradoksal, yang berjalin berkelindan secara ontologis. Dwi tunggal. Upaya memisahkan keduanya hanya akan meniadakan keduanya.</p>
<p>Kemudian akupun belajar menerima kembar siam itu sebagai bagian dari hidupku. Jika kategori2 itu tautologis, apakah masih perlu lagi berseru: ‘Jangan pragmatislah!’?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/antara-idealis-dan-pragmatis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook itu Candu</title>
		<link>http://dewara.com/facebook-itu-candu/</link>
		<comments>http://dewara.com/facebook-itu-candu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Kegemaranku akan fb semakin menjadi. Tiada hari tanpa fb. Sebenarnya tiada hari tanpa internet. Tapi dorongan mampir ke fb telah menjadi imperatif kategoris. Tidak bermoral rasanya tidak menjenguk fb barang sehari saja. Email bisa ditunda belakangan, surfing nanti saja kalau sudah mendesak. Tapi kalo fb, musti, harus. Gak enak rasanya tidak menjawab pesan dari kawan2. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Ffacebook-itu-candu%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Ffacebook-itu-candu%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Facebook itu Candu" alt=" Facebook itu Candu" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kegemaranku akan fb semakin menjadi. Tiada hari tanpa fb. Sebenarnya tiada hari tanpa internet. Tapi dorongan mampir ke fb telah menjadi imperatif kategoris. Tidak bermoral rasanya tidak menjenguk fb barang sehari saja. Email bisa ditunda belakangan, surfing nanti saja kalau sudah mendesak. Tapi kalo fb, musti, harus. Gak enak rasanya tidak menjawab pesan dari kawan2. Atau cangkrukan di grup yang asyik. Atau mengumbar hasrat voyeur, ngintip aktivitas orang2 penting.<span id="more-466"></span></p>
<p>Dunia yang katanya maya itu menjadi semakin nyata. Bahkan lebih nyata dari kenyataan sehari-hari. Hiperrealitas. Sesrawungan dengan kawan2 fb menjadi lebih penting daripada kawan2 di kampung. Dengan berbasa-basi dan bersilaturahmi, saling mengunjungi, membuat seseorang merasa lebih sosial. Padahal seharian ngumpet di ruang sesak pengap gelap, didepan kotak gepeng ajaib idola tukul.</p>
<p>Generasi sekarang menjadi sosiopat. Tidak merasa perlu menghadiri tahlilan, kondangan, slametan, buwuhan. Lebih penting chatting, game online, bertukar mesej n tag foto. Atau mungkin justru yang begituan yang normal? Nilai2 bergeser mengikuti kehendak teknologi. Gaul tidaknya seseorang dinilai dari aktivitasnya di fb, atau minimal fs-lah.</p>
<p>Tapi ada baiknya juga kalo kecanduan fb. Paling nggak gak kecanduan narkoba. Mungkin sudah saatnya para produsen narkoba mengalihkan core bisnis mereka. Ada baiknya mereka menjadi developer aplikasi fb. Lalu bagaimana dengan kecanduan agama? Yang oleh Marx dituding  lebih merusak moral. Mungkin ada baiknya pada rohaniwan terlebih dahulu rame2 nge-fb. Biar lebih paham, what kind of enemy do they will face. Untuk selanjutnya menyiapkan strategi yang ampuh menghadapi kangkangan teknologi yang menantang.</p>
<p>Akhirul kalam, how fb r we?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/facebook-itu-candu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa</title>
		<link>http://dewara.com/doa/</link>
		<comments>http://dewara.com/doa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini bidadari mungilku bertanya, apakah aku sudah berdoa sebelum tidur. Pertanyaan yang justru membuatku tidak bisa tidur. Sebenarnya tidak sulit menjawabnya, hanya butuh cadangan temporary memory yang lebih banyak untuk menjelaskannya kepada anak TK. Mungkin di sekolah dia sudah mulai diajari berdoa sebelum tidur, sehingga mulai terbentuk moralitas relijiusnya. Akupun menjelaskan kepadanya, bahwa tentu saja Ang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fdoa%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fdoa%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Doa" alt=" Doa" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Malam ini bidadari mungilku bertanya, apakah aku sudah berdoa sebelum tidur. Pertanyaan yang justru membuatku tidak bisa tidur. Sebenarnya tidak sulit menjawabnya, hanya butuh cadangan <em>temporary memory</em> yang lebih banyak untuk menjelaskannya kepada anak TK. Mungkin di sekolah dia sudah mulai diajari berdoa sebelum tidur, sehingga mulai terbentuk moralitas relijiusnya.<span id="more-464"></span></p>
<p>Akupun menjelaskan kepadanya, bahwa tentu saja Ang (aku membiasakannya memanggilku Ang) berdoa. Yaitu ketika Ang mengingat secara mendalam kehidupannya, untuk kemudian memasukkannya ke dalam hidup Ang. Ketika Ang mengharapkan dia menjalani suatu kehidupan yang baik. Berdoa tidak harus selalu disertai posisi tubuh tertentu. Doa adalah sikap hati, bukan perilaku tubuh.</p>
<p>Tentu saja dia tidak terlalu mengerti apa yang aku katakan. Tapi setidaknya dia bisa berangkat tidur dengan tenang. Setidaknya dia yakin bahwa bapaknya bukan orang jahat.</p>
<p>Kemudian giliran aku disergap oleh badai serotonin (jadi terpengaruh supernova) yang merembeskan imajinasiku ke ruang-ruang gelap. Tidur tidak lagi menjadi aktivitas yang nikmat. Lebih nikmat mengguncang-guncang pikiranku, agar tidak terjadi sedimentasi ide. Agar aku tidak menjalani tradisi yang membatu. Agar aku selalu memperbarui tradisiku, sampai ia tak layak lagi disebut tradisi.</p>
<p>Mengapa seseorang merasa perlu berdoa? Mungkin karena ia merasa butuh teman. Ketika ia merasa tidak tahu lagi ke mana harus mengadu. Ketika dunia dengan segala kesumpekannya ini tidak memberi kelegaan kepadanya.</p>
<p>Lalu kepada siapa ia berdoa? Tidak terlalu jelas sih. Atau lebih tepatnya tidak terlalu penting. Yang penting adalah ia merasa lebih longgar setelah berbagi beban jiwa. Begitu prosedur berdoa itu dilalui, ia menjanjikan rasa rileks. Saking tidak pentingnya kepada siapa doa ditujukan, sampai-sampai seorang kawan pernah berseloroh bahwa tuhan itu merupakan teman khayalan orang dewasa.</p>
<p>Khayalan nakalku pun mulai melunjak. Barangkali, seandainya setiap orang dapat menjadi teman bagi orang lain, maka tuhan tidak perlu ada. Sialnya, tidak mungkin mengharapkan seseorang hanya menjadi kawan saja, ia juga berpotensi menjadi lawan. Celana punya dua lobang, teman khayalanku mengingatkan. Kawan dan lawan itu hanya masalah konteks saja.</p>
<p>Sehingga khayalanku pun menjadi terasa begitu naif. Lalu akupun membatalkannya, demi kemanusiaan. Aku biarkan saja tuhan itu tetap ada, sejauh dia bermanfaat bagi kemanusiaan. Toh dia hanya sekedar teman khayalan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ideologi dalam Negara</title>
		<link>http://dewara.com/ideologi-dalam-negara/</link>
		<comments>http://dewara.com/ideologi-dalam-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Negara sebagai sebuah organisasi, tidak hanya membutuhkan legitimasi formal. Negara juga membutuhkan legitimasi epistemik. Legitimasi epistemik itu berwujud ideologi. Tanpa legitimasi epistemik yang memadai, negara rentan menuju perpecahan. Ideologi yang dianut sebuah negara, biasanya berwatak ideologis. Barangkali hampir tidak ada negara menjadikan ideologinya sebagai sebuah tawaran filsafat politik yang fleksibel terhadap perubahan jaman. Negara cenderung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fideologi-dalam-negara%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fideologi-dalam-negara%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Ideologi dalam Negara" alt=" Ideologi dalam Negara" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Negara sebagai sebuah organisasi, tidak hanya membutuhkan legitimasi formal. Negara juga membutuhkan legitimasi epistemik. Legitimasi epistemik itu berwujud ideologi. Tanpa legitimasi epistemik yang memadai, negara rentan menuju perpecahan.</p>
<p>Ideologi yang dianut sebuah negara, biasanya berwatak ideologis. Barangkali hampir tidak ada negara menjadikan ideologinya sebagai sebuah tawaran filsafat politik yang fleksibel terhadap perubahan jaman. Negara cenderung mempertahankan stabilitas dan status quo. Karenanya negara membutuhkan watak ideologis dari ideologi yang dianutnya.<span id="more-462"></span></p>
<p>Dengan menjadi ideologis, maka ideologi yang ada telah, sedang dan akan digunakan negara untuk memanipulasi kesadaran rakyatnya. Negara memang bukan pemerintah. Pemerintah juga bukan negara. Dalam hal hegemoni ini, pemerintah bersama dengan para pihak yang ingin berkuasa sangat berkepentingan dengan manipulasi kesadaran rakyat.</p>
<p>Para elit yang mengetahui bahwa negara perlu stabilitas, meskipun mengambil posisi sebagai oposisi terhadap pemerintah berkuasa, tetap saja mendengang-dengungkan ideologi yang berwatak ideologis. Jadi baik pemerintah maupun oposisi merupakan sindikat manipulator kesadaran politis rakyat. Kekuasaan hanya bertukar-tukar antar elit.</p>
<p>Mobilitas politik vertikal hampir pasti tidak akan mengubah watak ideologis ideologi negara. Sebab para pemain kekuasaan telah membangun sistem seleksi yang begitu ketat. Sehingga siapapun yang lolos masuk ke dalam lingkaran elit kekuasaan, tidak akan merasa perlu mengutak-utik ideologi yang sudah ada. Tak urung para profesor pun tunduk pada kekuasaan. Bila dialektika filsafat politik menjadi begitu kering, jangan pernah berharap mendapatkan alternatif.</p>
<p>Dengan watak kodratik ideologi negara yang demikian, maka hampir pasti tidak ada negara berideologi terbuka. Jika sepertinya sebuah negara berideologi terbuka, sesungguhnya negara tersebut sedang menjalankan sebuah mesin simulator raksasa untuk menghadapi mesin simulator tembre negara lain. Apakah negara tersebut siap mengubah ideologinya? Mungkin ya, jika ia tidak lagi menjadi penguasa dunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/ideologi-dalam-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyekat waktu</title>
		<link>http://dewara.com/menyekat-waktu/</link>
		<comments>http://dewara.com/menyekat-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki 1 Januari 2012 tidak jauh beda dengan 1 Mei atau 1 September. Setiap hari kita melewati jam 12 malam. Apa yang istimewa dengan 31 Desember jam 12 malam? Manusia adalah makhluk yang kreatif. Dia berusaha mengatasi ketakutannya sekaligus mewujudkan harapannya. Sepanjang sejarah peradaban manusia, ia belum mampu menaklukkan waktu. Rezim waktu merupakan penguasa absolut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fmenyekat-waktu%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fmenyekat-waktu%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Menyekat waktu" alt=" Menyekat waktu" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Memasuki 1 Januari 2012 tidak jauh beda dengan 1 Mei atau 1 September. Setiap hari kita melewati jam 12 malam. Apa yang istimewa dengan 31 Desember jam 12 malam?</p>
<p>Manusia adalah makhluk yang kreatif. Dia berusaha mengatasi ketakutannya sekaligus mewujudkan harapannya.<span id="more-460"></span></p>
<p>Sepanjang sejarah peradaban manusia, ia belum mampu menaklukkan waktu. Rezim waktu merupakan penguasa absolut atas hidup manusia.</p>
<p>Namun manusia tak kurang akal, ia memformat waktu, ia memartisi waktu menjadi potongan kecil yang mampu ia kelola. Rezim waktu sebagai lewiatan tidak mampu ditundukkan manusia. Maka manusia mengebiri waktu menjadi abad, windu, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik.</p>
<p>Dengan begitu manusia menjadi lebih berkuasa atas waktu. Manusia bisa memerlakukan waktu sebagai potongan-potongan yang bisa dikantongi. Bagaikan anak SD yang mencoba menggambar peta dunia dengan cara membaginya menjadi kotak-kotak kecil berukuran 1 cm persegi. Menggambar peta yang paling rumit pun bisa dilakukan.</p>
<p>Dengan membagi waktu, manusia merasa mengetahui tepian waktu. Sehingga 31 Desember pun disebut penghujung tahun, tahun 1999 pun disebut penghujung abad atau bahkan milenium.</p>
<p>Namun waktu tetaplah dewa yang tak mungkin diatur-atur. Manusia bisa meringkas ruang, tapi tidak dengan waktu. Bahkan Einstein pun hanya mampu membayangkannya.</p>
<p>Sesakti apapun manusia, tidak mampu menaham hempasan waktu. Manusia akan digilas, diuji, dihakimi oleh waktu. Seakan-akan waktu itu tuhan. Atau memang iya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/menyekat-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Buku Wajah</title>
		<link>http://dewara.com/membaca-buku-wajah/</link>
		<comments>http://dewara.com/membaca-buku-wajah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Buku wajah (facebook) menjadi modus berelasi yang baru di dunia maya. Buku wajah menawarkan fitur yang lebih atraktif dibandingkan saudara tuanya: friendster.  Tak pelak buku wajah mendapat sambutan yang lumayan meriah di tanah air. Meski demikian, buku wajah bukan tanpa ironi. Buku wajah hanyalah menjadi fantasi tanpa kopi darat. Buku wajah menyimpan potensi hoaxing, sebagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fmembaca-buku-wajah%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fmembaca-buku-wajah%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Membaca Buku Wajah" alt=" Membaca Buku Wajah" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Buku wajah (facebook) menjadi modus berelasi yang baru di dunia maya. Buku wajah menawarkan fitur yang lebih atraktif dibandingkan saudara tuanya: friendster.  Tak pelak buku wajah mendapat sambutan yang lumayan meriah di tanah air.<span id="more-457"></span></p>
<p>Meski demikian, buku wajah bukan tanpa ironi. Buku wajah hanyalah menjadi fantasi tanpa kopi darat. Buku wajah menyimpan potensi hoaxing, sebagaimana friendster.</p>
<p>Buku wajah bukanlah buku yang berisi wajah-wajah. Dia melampaui etika Levinas yang menyatakan manusia tak berkutik ketika bertemu wajah sesamanya. Dalam waktu satu nanodetik, manusia terbelenggu oleh ketercengangan etis.</p>
<p>Para Levinasian perlu menjelaskan ulang tafsir Levinas atas wajah, dalam konteks buku wajah. Seseorang tidak lagi perlu tercengang, karena wajah yang dihadapinya bukanlah wajah manusia yang berdarah daging. Melainkan wajah simulakrik yang penuh manipulasi elektronik.</p>
<p>Wajah fantasi yang membawa manusia luruh dalam fantasmagoria. Milyaran wajah menghunjam ingatan kita, berebut menduduki bangku-bangku kosong dalam otak kita.</p>
<p>Bukan wajah tanpa dosa seperti yang dibayangkan Levinas, melainkan wajah bak topeng, atau topeng bak wajah. Tidak lagi jelas mana topeng mana wajah. Mungkin memang tidak perlu lagi pemisahan yang tegas itu. Sebab yang maya itulah yang nyata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/membaca-buku-wajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berideologi Tanpa Menjadi Ideologis</title>
		<link>http://dewara.com/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis/</link>
		<comments>http://dewara.com/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Marx]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[Memperbincangkan ideologi memanglah menarik. Karena tidak mungkin manusia hidup tanpa ideologi. Namun demikian, sebagaimana ide-ide yang lain, ideologi memiliki banyak makna. Sudah cukup banyak pakar yang memahami ideologi dari sudut pandang yang berlainan. Pemahaman kita, hanyalah merupakan salah satu pilihan saja, dari sekian banyak alternatif pemikiran yang ada. Bisa jadi, penyebab utama keterbatasan pandangan kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fberideologi-tanpa-menjadi-ideologis%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fberideologi-tanpa-menjadi-ideologis%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Berideologi Tanpa Menjadi Ideologis" alt=" Berideologi Tanpa Menjadi Ideologis" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Memperbincangkan ideologi memanglah menarik. Karena tidak mungkin manusia hidup tanpa ideologi. Namun demikian, sebagaimana ide-ide yang lain, ideologi memiliki banyak makna. Sudah cukup banyak pakar yang memahami ideologi dari sudut pandang yang berlainan. Pemahaman kita, hanyalah merupakan salah satu pilihan saja, dari sekian banyak alternatif pemikiran yang ada.<span id="more-455"></span></p>
<p>Bisa jadi, penyebab utama keterbatasan pandangan kita adalah karena kemalasan berpikir. Kita enggan menggali atau mengais bentuk ideologi yang lain, lalu dengan gampangan mengantongi begitu saja ideologi yang terdekat dengan keseharian kita. Akibatnya, dengan sangat gampang ideologi tersebut menjadi berwatak ideologis. Artinya: ideologi telah menjadi alat yang efektif untuk memanipulasi kesadaran kita.</p>
<p>Istilah ideologi pertama kali digunakan oleh Destutt de Tracy (1754-1836) pada akhir abad ke -18. Meski demikian, sebenarnya fenomena ideologi telah dibahas lebih awal oleh Niccolo Machiavelli (1469-1527). Setelah mereka, banyak para pemikir yang memikirkan ideologi, antara lain Bacon, Hegel, Napoleon, Comte dan Feurbach. Perdebatan antar banyak pemikir tadi belum bisa disebut perdebatan tentang ideologi secara dewasa.</p>
<p>Pemikiran tentang ideologi menjadi matang semenjak Karl Marx (1818-1883). Artinya pemikiran sudah memiliki sistematika dan metodologi yang lebih baik. Perdebatan dilanjutkan oleh para pemikir seperti Engels, Durkheim, Mannheim, Goldmann, Barthes dan Althusser. Belakangan perdebatan berkembang di wilayah filsafat bahasa, filsafat komunikasi dan filsafat ekonomi. Ideologi diperbincangkan dalam hubungannya dengan wacana, media massa dan globalisasi.</p>
<p>Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas perdebatan detil sejarah pemikiran ideologi. Namun hanya sebatas memberi gambaran awal tentang peta pemikiran ideologi. Tidak juga untuk memerikan berbagai macam ajaran ideologi. Tetapi lebih kepada tinjauan cara kita memandang ideologi. Sebab, jika kita hendak menjadi pakar ideologi, tentu kita harus membaca karya-karya primer. Sedangkan tulisan ini sekedar membantu kita belajar memaknai ulang ideologi dalam kehidupan kita. Apakah kita mampu hidup tanpa ideologi, atau apakah kita perlu berwatak ideologis?</p>
<p><strong>Watak Ideologis Marx</strong></p>
<p>Marx adalah pemikir besar. Ia seorang filosof, ekonom, sosiolog, dan pakar politik. Pemikirannya begitu dinamis, meskipun kadang terkesan meloncat. Memang tidak mungkin merangkum Marx dalam satu kalimat. Namun bagaimanapun juga, Marx harus berwujud agar tidak menjadi hantu. Karenanya kita perlu membingkai Marx dalam pemandangan tertentu.</p>
<p>Marx memahami ideologi sebagai ide-ide dominan dari kelas yang berkuasa. Atau dengan kata lain, ideologi merupakan kesadaran yang dimanipulasi. Terdapat beberapa istilah kaum Marxis yang sejajar dengan pemahaman itu, misalnya <em>falsches Bewusstsein</em> (kesadaran palsu) atau <em>heghemonia</em> (hegemoni). Mereka menganggap bahwa ideologi berfungsi menyembunyikan sekaligus melestarikan ketimpangan struktural.</p>
<p>Ideologi kemudian disebarluaskan melalui pendidikan, media massa, kesenian, ilmu pengetahuan, sistem hukum, dsb. Dengan demikian ideologi menjadi akal sehat dan karenanya paradigmatik, masyarakat menjadi terbiasa dan tidak asing dengan paradigma ideologi tadi. Masyarakat merasa <em>melu handarbeni</em> (ikut memiliki) pola pikir ideologi. Inilah hegemoni: penguasa menguasai, terkuasa tidak merasa dikuasai.</p>
<p>Namun demikian, pemahaman Marx tersebut mengandung <em>epistemic defect</em>(cacat epistemologis). Karena watak pemikiran Marx terhadap ide-ide dominan kelas berkuasa tadi justru berwatak ideologis. Marx telah mengistimewakan pengetahuannya sebagai kriterium kebenaran obyektif. Dengan demikian Marx juga telah melakukan hegemoni atas kelas proletar pinggiran, untuk melawan kelas kapitalis yang berkuasa.</p>
<p>Cara pandang Marxian seperti ini banyak digunakan oleh berbagai kelompok kepentingan di Indonesia seperti partai, ormas, ornop bahkan di kampus. Yang ideologis, yang irasional, yang membabibuta pastilah partai sana, kelompok sana, sedangkan partai kita, kelompok kita, adalah kritis, rasional dan obyektif. Karena kita tentu menjadi bagian dari salah satu kelompok, ada baiknya kita juga mengevaluasi watak ideologis kelompok kita.</p>
<p><strong>Ideologi sebagai filsafat politik</strong></p>
<p>Ideologi kontemporer berusaha mengatasi watak ideologis dari ideologi. Alih-alih dipandang secara ideologis, ideologi lebih dilihat sebagai pemikiran politis. Perubahan tersebut terjadi setelah ideologi sebagai kesadaran palsu dianggap telah mati<a href="http://ligaberpikirbebas.blogspot.com/2007/03/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis.html#_ftn3">[1]</a>. Ideologi sebagai pemikiran politis identik dengan filsafat politik. Karenanya ia deskriptif dari perspektif pengamat. Filsafat politik hanya memaparkan isi ajaran dan dinamikanya.</p>
<p>Konsep ideologi sebagai pemikiran politis mengambil jarak dari konsep ideologi sebagai kuasa elit (Marx), sebagai sistem represi psikis (Freud) atau sebagai sistem kebudayaan (Geertz). Konsep ini memperbincangkan program ideologi-ideologi ke taraf diskursus ilmiah dan menunjukkan evolusi internal mereka. Dengan demikian kita terhindar dari pemahaman ideologis yang peyoratif dan cenderung menggiring kita ke sikap naif dan ignoran yang menjadi lahan subur bagi fanatisme dan intoleransi.</p>
<p>Roger Eatwell dan Anthony Wright dalam bukunya <em>Contemporary Political Ideologies </em>memetakan ideologi ke dalam sepuluh aliran besar<a href="http://ligaberpikirbebas.blogspot.com/2007/03/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis.html#_ftn4">[2]</a>: liberalisme, konservatisme, sosialisme demokratis, komunisme, anarkisme, nasionalisme, fasisme, feminisme, ekologisme dan fundamentalisme Islam. Perkembangan ideologi-ideologi tersebut tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks modernisasi Barat.</p>
<p>Liberalisme dapat dianggap sebagai titik tolak modernisasi. Semua ideologi lain, kecuali nasionalisme, berkembang dalam konfrontasinya dengan liberalisme. Sejarah ideologi-ideologi politis merupakan sejarah liberalisme dengan para pesaingnya. Liberalisme sudah beramalgama dengan kapitalisme sejak awalnya. Mereka berdua bersepakat mengusung individualisme, meskipun masih mempertimbangkan keberadaan negara.</p>
<p>Konservatisme merupakan respon negatif atas liberalisme. Sebenarnya ia tidak menentang perubahan, melainkan menegaskan <em>conditio humana</em> (batas kodrat manusia) yang tidak dapat dilampaui atau diubah begitu saja. Karena doktrin batasnya, ia dianggap pro status quo. Namun demikian, meletakkan konservatisme berseberangan dengan liberalisme, tidak membantu memperbaiki pemahaman kita, bahkan dapat menimbulkan prasangka intelektual yang tidak perlu.</p>
<p>Marxisme dan komunisme merupakan penentang liberalisme secara frontal dan radikal. Meski sebenarnya mereka juga merupakan pendukung modernisasi. Marxisme menganggap <em>fraternite </em>sebagai hal terpenting humanisme justru tidak terwujud dalam masyarakat liberal kapitalistis. Inti ajaran Marxisme adalah keadilan sosial. Namun, sistem ekonomi yang beroperasi secara global, anonim dan terlepas dari struktur kelas yang nyata, membuat Marxisme dan komunisme kehilangan sasarannya.</p>
<p>Anarkisme merupakan bentuk radikal dari liberalisme dengan menolak negara. Revolusi anarkis tidak berhenti hanya pada penggantian rezim, melainkan pelenyapan spontan segala otoritas dan hukum. Tujuan akhir anarkisme adalah asosiasi sukarela dari individu-individu otonom atau self government. Sedangkan programnya adalah desentralisasi politis radikal sampai ke tangan individu-individu. Bersama komunisme, anarkisme juga menolak kapitalisme yang menghegemoni individu.</p>
<p>Feminisme menyingkapkan ketimpangan gender yang lebih mendasar dibanding ketimpangan sosial. Menurut mereka azas <em>egalite</em> harus lebih diprioritaskan. Feminisme menilai relasi kekuasaan tidak hanya terjadi di ruang publik, melainkan juga masuk ke ruang privat. Mereka menolak domestikasi dan pembatasan perempuan melalui perkembangan teknologi medis kontrasepsi.</p>
<p>Ekologisme lebih menekankan keprihatinannya pada lingkungan fisik ketimbang lingkungan sosial. Ia telah dimulai sejak abad ke-18 melalui aliran romantik <em>retour a la natour</em>. Ia menyerukan gerakan kembali ke alam melalui program ekonomi hijau, politik hijau dan masyarakat hijau. Menurut mereka antroposentrisme yang diusung liberalisme membahayakan lingkungan.</p>
<p>Ketiga ideologi yang perlu dilihat secara berbeda adalah nasionalisme, fasisme dan fundamentalisme Islam. Mereka diselubungi aura yang mereka peroleh dari ide-ide tentang sebuah kolektif asli pramodern yang masih utuh dan murni yaitu bangsa, ras atau agama.</p>
<p>Nasionalisme modern merupakan saudara kembar liberalisme. Nation tidak dipahami sebagai <em>ethnos </em>(hubungan darah), melainkan <em>demos </em>(hubungan politik). Konsep nation dipersempit untuk menggumpalkan identitas kolektif yang telah dikeringkan oleh modernitas. Berbeda dengan nasib nasionalisme ala Uni Soviet dan Nazi, di Indonesia nasionalisme justru menjadi juruselamat. Dulu dari penjajahan, kini dari perpecahan suku.</p>
<p>Fasisme mementaskan mitos kepemimpinan. Ia bercirikan partai massa, pemimpin kharismatis, penggunaan teror dan propaganda total. Ia memusuhi liberalisme, konservatisme dan komunisme sekaligus. Fasisme merupakan ideologi yang kompleks. Ia mencampuradukkan berbagai filsafat yang saling berjauhan, seperti kuasa elit (Plato), kehendak umum (Rousseau), prioritas kolektif (Hegel) kehendak berkuasa (Nietzsche), elan sejarah (Bergson) dan kultus kekerasan (Sorel). Semuanya berfungsi sebagai legitimasi kekuasaan totaliter.</p>
<p>Fundamentalisme Islam bereaksi secara khusus terhadap sekularisasi. Fundamentalisme merupakan anak kandung dari modernisasi. Tesis yang berkembang di Barat adalah Islamisme lahir dari ketidakmampuan menanggapi krisis akibat modernisasi. Padahal ketidakmampuan itu merupakan dampak dari beban sejarah kolonialisme atas negara-negara Islam dan dari ketimpangan global.</p>
<p><strong>Globalisasi dan Neoliberalisme</strong></p>
<p>Setelah kita sedikit memahami peta ideologi, kita diperhadapkan pada tantangan raksasa atas segala ide di awal abad ini. Globalisasi menjadi fenomena yang niscaya memaksa kita untuk meninjau ulang tawaran berbagai ideologi yang ada. Globalisasi memaksa kita meletakkan ideologi hanya di kepala kita, bukan di hati kita. Kalau toh kita hendak berideologi, kita tidak bisa menjadi ideologis.</p>
<p>Globalisasi sebagai sebuah tata ekonomi baru, dimulai pada pertengahan dasawarsa 1970-an. Namun baru terasa gaungnya pada awal 1990-an, ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan berkembangnya internet. Globalisasi memang merupakan serangkaian proses yang kompleks dan multidimensi (ekonomi, politik, sosial, budaya), namun tidak berlebihan kiranya bila kita hanya menekankan pada aspek ekonomi, karena pada kenyataannya aspek yang lain tergantung kepada aspek ekonomi (kinerja modal finanasial). Filsafat ekonomi-politik globalisasi disebut neoliberalisme.</p>
<p>Ontologi manusia dalam neoliberalisme menyatakan bahwa manusia pertama-tama dan terutama adalah <em>homo economicus</em>. Yaitu transaksi ekonomi yang dilakukan manusia merupakan satu-satunya model relasi antarmanusia yang menjadi dasar bagi relasi yang lain, seperti keluarga, masyarakat, dan negara. Ontologi yang demikian tentu saja berdampak pada epistemologi dan etika neoliberalisme.</p>
<p>Epistemologi neoliberalisme menegaskan bahwa relasi sosial harus dipahami dengan menggunakan konsep dan indikator ekonomi sistem pasar. Baik kemacetan yang dihadapi maupun perubahan yang diinginkan haruslah dilihat dengan konsep dan solusi sistem pasar. Sedangkan etika neoliberalisme menegaskan bahwa kebijakan apapun harus dievaluasi menggunakan prinsip ekonomi sistem pasar. Jika liberalisme klasik abad ke-18 menuntut pemerintah menghormati kinerja pasar, maka neoliberalisme menuntut agar kinerja sistem pasar dijadikan satu-satunya ukuran dalam menilai kebijakan pemerintah.</p>
<p>Liberalisme klasik yang ditawarkan Adam Smith (1723-1790) melalui bukunya<em>An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations</em> (1776) yang menawarkan individualisme, memiliki tujuan tercapainya kesejahteraan sebuah bangsa. Sedangkan neoliberalisme menempatkan kesejahteraan individual sebagai tujuannya, atau dengan kata lain mengganti ruang hidup sosial dengan urusan individual. Hal tersebut dapat dilihat setidaknya dalam dua gejala yang merupakan upaya – yang bersifat paradoks – neoliberalisme untuk melakukan personalisasi sekaligus de-personalisasi modal<a href="http://ligaberpikirbebas.blogspot.com/2007/03/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis.html#_ftn5">[3]</a>.</p>
<p>Pertama, konsep neoliberalisme tentang modal manusia, yang merupakan personalisasi modal. Liberalisme klasik mengakui bahwa tanah, modal, dan tenaga kerja merupakan faktor produksi yang saling terkait dalam <em>trias economica</em>. Neoliberalisme tidak melihat modal dan tenaga kerja dalam artian obyektif, melainkan dalam arti subyektif. Upah seseorang bukanlah “harga” bagi tenaga kerja yang dijual, melainkan “laba” dari modal yang dimilikinya (otot, ketrampilam, pengetahuan). Seseorang tidak dilihat sebagai buruh, melainkan wirausahawan yang berusaha memproduksi nilai tambah bagi dirinya.</p>
<p>Kedua, modal dilepas dari kaitannya dengan tanah dan tenaga kerja, ini merupakan de-personalisasi modal. Liberalisme klasik melihat tanah sebagai aksis fisik-spasial dari pabrik atau kantor. Namun secara makro, tanah juga menunjuk pada partikularitas wilayah-spasial dimana komunitas politis-kultural hidup (tanah air atau<em>patria</em>). Neoliberalisme menjungkirbalikkan <em>trias economica</em> secara mendasar. Dalam neoliberalisme kinerja modal finansial dilepas dari kaitannya dengan proses <em>survival</em>warga negara dan <em>patria</em>. Kalaupun terkait, hanyalah merupakan <em>an unintended consequence</em> (konsekuensi yang tidak disengaja). Dilepasnya modal dari <em>trias economica</em> juga berarti pemberian gratis hak istimewa dan kekuasaan yang hampir mutlak kepada (para pemilik) modal finansial. Itulah sebabnya nasib tenaga kerja dan rusaknya <em>patria</em> dianggap tidak ada hubungannya lagi dengan logika kinerja modal finansial.</p>
<p><strong>Matikah Ideologi?</strong></p>
<p>Di hadapan neoliberalisme yang begitu digjaya, sepertinya tidak ada lagi gunanya kita membicarakan ideologi. Benarkah demikian? Mungkin benar, bila kita melihat ideologi sebagai kesadaran palsu. Sebab, semua ideologi yang demikian sudah dilibas habis oleh neoliberal. Atau setidaknya mereka semua sedang menuju kemusnahannya. Melalui teknologi, neoliberal telah menggunakan perangkat-perangkat peradaban untuk segenap-genapnya memanipulasi dan menguasai kesadaran kita. Kalau toh pun kita sadar, kita tetap saja tidak dapat melepaskan diri dari jerat peradaban neoliberal.</p>
<p>Namun, sebagai filsafat politik, ideologi tidak perlu dan tidak mungkin mati. Sebab, setiap fase peradaban menghasilkan filsafat politiknya sendiri, yang tidak mungkin dilepaskan begitu saja dari konstelasi sejarahnya. Bahkan neoliberalpun tidak hidup dengan memusnahkan segala hal begitu saja. Ia membutuhkan kondisi habitat tertentu untuk terus hidup. Ia akan terus bermetamorfosis setelah bertemu dengan ideologi lain yang hampir mati.</p>
<p>Sepertinya, filsafat politik yang ingin berumur panjang harus mempertimbangkan globalisasi secara serius. Ideologi tidak hanya dituntut rasional, melainkan juga adaptif. Ideologi yang tidak berdamai dengan globalisasi tidak akan muncul lagi dalam babak berikut teater pemikiran politik. Bagaimana dengan ideologi kita masing-masing? Semoga kita mampu berideologi tanpa menjadi ideologis. Sapere Aude!*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://ligaberpikirbebas.blogspot.com/2007/03/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis.html#_ftnref3">[1]</a> Salah satu tokoh yang menyerukan kematian ideologi adalah Daniel Bell dalam bukunya <em>The End of Ideology</em>. Sebagai pengantar dapat dibaca skripsi Nuswantoro yang telah dibukukan dan berjudul <em>Daniel Bell: Matinya Ideologi</em>.</p>
<div>
<p><a href="http://ligaberpikirbebas.blogspot.com/2007/03/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis.html#_ftnref4">[2]</a> Buku ini diulas secara khusus oleh Francisco Budi Hardiman dalam artikelnya “Ideologi Sebagai Pemikiran Politis” yang dimuat dalam Jurnal Filsafat dan Teologi<em>Diskursus</em> Volume 2 Nomor 1, April 2003, halaman 19-34.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://ligaberpikirbebas.blogspot.com/2007/03/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis.html#_ftnref5">[3]</a> Lihat <em>Sesudah Modal Lolos dari Trias Economica</em>, B Herry-Priyono, Bentara Nomor 12 Tahun 3, Kompas, 9 Desember 2002. Artikel ini dapat dijadikan rujukan awal studi filosofis atas neoliberalisme, karena Herry menjelaskan secara tegas perbedaan filosofis antara liberalisme dan neoliberalisme.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/berideologi-tanpa-menjadi-ideologis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://dewara.com/hello-world/</link>
		<comments>http://dewara.com/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 09:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dewara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[komedi]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewara.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Halo dunia, lewat jendela ini kusapa engkau. Kuharap menjumpaimu selalu dalam suasana baru. Lengkap dengan tragedi dan komedi yang kau tawarkan. Kan kubiarkan jendela ini terbuka, agar dapat terus kutemui segala kemungkinan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fhello-world%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fdewara.com%2Fhello-world%2F&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" title="Hello world!" alt=" Hello world!" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Halo dunia, lewat jendela ini kusapa engkau.</p>
<p>Kuharap menjumpaimu selalu dalam suasana baru.</p>
<p>Lengkap dengan tragedi dan komedi yang kau tawarkan.</p>
<p><span id="more-452"></span></p>
<p>Kan kubiarkan jendela ini terbuka, agar dapat terus kutemui segala kemungkinan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewara.com/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

