Facebook itu Candu

S c r o l l D o w n

Kegemaranku akan fb semakin menjadi. Tiada hari tanpa fb. Sebenarnya tiada hari tanpa internet. Tapi dorongan mampir ke fb telah menjadi imperatif kategoris. Tidak bermoral rasanya tidak menjenguk fb barang sehari saja. Email bisa ditunda belakangan, surfing nanti saja kalau sudah mendesak. Tapi kalo fb, musti, harus. Gak enak rasanya tidak menjawab pesan dari kawan2. Atau cangkrukan di grup yang asyik. Atau mengumbar hasrat voyeur, ngintip aktivitas orang2 penting.

Dunia yang katanya maya itu menjadi semakin nyata. Bahkan lebih nyata dari kenyataan sehari-hari. Hiperrealitas. Sesrawungan dengan kawan2 fb menjadi lebih penting daripada kawan2 di kampung. Dengan berbasa-basi dan bersilaturahmi, saling mengunjungi, membuat seseorang merasa lebih sosial. Padahal seharian ngumpet di ruang sesak pengap gelap, didepan kotak gepeng ajaib idola tukul.

Generasi sekarang menjadi sosiopat. Tidak merasa perlu menghadiri tahlilan, kondangan, slametan, buwuhan. Lebih penting chatting, game online, bertukar mesej n tag foto. Atau mungkin justru yang begituan yang normal? Nilai2 bergeser mengikuti kehendak teknologi. Gaul tidaknya seseorang dinilai dari aktivitasnya di fb, atau minimal fs-lah.

Tapi ada baiknya juga kalo kecanduan fb. Paling nggak gak kecanduan narkoba. Mungkin sudah saatnya para produsen narkoba mengalihkan core bisnis mereka. Ada baiknya mereka menjadi developer aplikasi fb. Lalu bagaimana dengan kecanduan agama? Yang oleh Marx dituding  lebih merusak moral. Mungkin ada baiknya pada rohaniwan terlebih dahulu rame2 nge-fb. Biar lebih paham, what kind of enemy do they will face. Untuk selanjutnya menyiapkan strategi yang ampuh menghadapi kangkangan teknologi yang menantang.

Akhirul kalam, how fb r we?

Leave a Reply

Your email address will not be published.