Doa

S c r o l l D o w n

Malam ini bidadari mungilku bertanya, apakah aku sudah berdoa sebelum tidur. Pertanyaan yang justru membuatku tidak bisa tidur. Sebenarnya tidak sulit menjawabnya, hanya butuh cadangan temporary memory yang lebih banyak untuk menjelaskannya kepada anak TK. Mungkin di sekolah dia sudah mulai diajari berdoa sebelum tidur, sehingga mulai terbentuk moralitas relijiusnya.

Akupun menjelaskan kepadanya, bahwa tentu saja Ang (aku membiasakannya memanggilku Ang) berdoa. Yaitu ketika Ang mengingat secara mendalam kehidupannya, untuk kemudian memasukkannya ke dalam hidup Ang. Ketika Ang mengharapkan dia menjalani suatu kehidupan yang baik. Berdoa tidak harus selalu disertai posisi tubuh tertentu. Doa adalah sikap hati, bukan perilaku tubuh.

Tentu saja dia tidak terlalu mengerti apa yang aku katakan. Tapi setidaknya dia bisa berangkat tidur dengan tenang. Setidaknya dia yakin bahwa bapaknya bukan orang jahat.

Kemudian giliran aku disergap oleh badai serotonin (jadi terpengaruh supernova) yang merembeskan imajinasiku ke ruang-ruang gelap. Tidur tidak lagi menjadi aktivitas yang nikmat. Lebih nikmat mengguncang-guncang pikiranku, agar tidak terjadi sedimentasi ide. Agar aku tidak menjalani tradisi yang membatu. Agar aku selalu memperbarui tradisiku, sampai ia tak layak lagi disebut tradisi.

Mengapa seseorang merasa perlu berdoa? Mungkin karena ia merasa butuh teman. Ketika ia merasa tidak tahu lagi ke mana harus mengadu. Ketika dunia dengan segala kesumpekannya ini tidak memberi kelegaan kepadanya.

Lalu kepada siapa ia berdoa? Tidak terlalu jelas sih. Atau lebih tepatnya tidak terlalu penting. Yang penting adalah ia merasa lebih longgar setelah berbagi beban jiwa. Begitu prosedur berdoa itu dilalui, ia menjanjikan rasa rileks. Saking tidak pentingnya kepada siapa doa ditujukan, sampai-sampai seorang kawan pernah berseloroh bahwa tuhan itu merupakan teman khayalan orang dewasa.

Khayalan nakalku pun mulai melunjak. Barangkali, seandainya setiap orang dapat menjadi teman bagi orang lain, maka tuhan tidak perlu ada. Sialnya, tidak mungkin mengharapkan seseorang hanya menjadi kawan saja, ia juga berpotensi menjadi lawan. Celana punya dua lobang, teman khayalanku mengingatkan. Kawan dan lawan itu hanya masalah konteks saja.

Sehingga khayalanku pun menjadi terasa begitu naif. Lalu akupun membatalkannya, demi kemanusiaan. Aku biarkan saja tuhan itu tetap ada, sejauh dia bermanfaat bagi kemanusiaan. Toh dia hanya sekedar teman khayalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.