Antara Idealis dan Pragmatis

S c r o l l D o w n

Dulu aku mengira, menjadi idealis itu bagus, menjadi pragmatis itu jelek. Aku menganggap keduanya sebagai entitas yang berbeda dan tak mungkin bersentuhan. Idealis berarti mengandaikan sesuatu yang idiil, sehingga lebih tampak universal dan trensenden. Sedangkan pragmatis terkait dengan kepentingan, sehingga lebih tampak egois dan parsial.

Setelah melalui pergumulan dengan tuhan dan hantu, baru aku menemukan perspektif yang lain dalam memandang keduanya. Seseorang bisa menjadi idealis atau pragmatis dengan cara yang idealis atau pragmatis juga. Jadi idealis atau pragmatis bisa dianggap sebagai kata benda ataupun kata sifat. Sebagai kata benda, mereka menjadi keadaan yang dituju. Sedangkan sebagai kata sifat, mereka menjadi cara mencapai tujuan.

Dus, dalam hal ini terdapat 4 jenis manusia:

1. Orang yang menjadi idealis secara idealis

Orang jenis ini bisa dibilang naif dan platonis. Sebagian besar aspek hidupnya terkait dengan ide atau hal2 yang idiil. Dia ingin mencapai keadaan ideal dengan cara yang ideal pula. Hampir pasti dia tidak akan kaya. Karena dia tidak akan menganggap penting kekayaan dan tidak akan meluangkan waktu untuk mengejar kekayaan.

2. Orang yang menjadi idealis secara pragmatis

Orang jenis ini cocok menjadi politisi dalam arti luas. Dia mengagumi kondisi ideal, namun dia tidak mengerti mengapa kondisi tersebut dianggap ideal. Dia mengantongi saja secara serampangan, idealisme yang sempat ia tahu. Kemudian dia meyakinkan orang banyak akan pentingnya menuju kondisi ideal tadi. Meskipun dia sendiri tidak pernah menguji, apakah idealisme tersebut tahan banting.

3. Orang yang menjadi pragmatis secara idealis

Orang jenis ini tipikal manusia modern. Dia sadar akan berbagai ide di sekitarnya. Dia mampu memilah dan memilih. Memilah dan memetakan berbagai tipologi idealisme, untuk kemudian memilih dan menjadikannya ‘agama’. Dia memilih dengan bebas, karenanya dia bertanggungjawab atas pilihannya. Dia sadar bahwa apapun pilihannya, akan selalu ada kontradiksi atasnya. Tidak ada idealisme yang sempurna, maka ia memilih yang paling cocok bagi dirinya.

4. Orang yang menjadi pragmatis secara pragmatis

Orang jenis ini benar2 orang lapangan. Dia tidak ambil pusing dengan harga diri dan martabat. Dia bisa mengubah prinsipnya sewaktu-waktu sesuai keadaan. Dia seorang petarung yang tidak peduli dengan nilai-nilai. Dia menghalalkan semua cara dan tujuan. Dia tidak perlu memahami dengan jelas siapa dirinya. Yang penting dia memenangkan setiap battle, tanpa perlu tahu apa war sesungguhnya.

Dikotomi idealis-pragmatis dapat dibandingkan dengan rasionalis-empiris, fisis-metafisis, transenden-imanen, ide-materi, universal-parsial, dsb. Dikotomi yang paradoksal, yang berjalin berkelindan secara ontologis. Dwi tunggal. Upaya memisahkan keduanya hanya akan meniadakan keduanya.

Kemudian akupun belajar menerima kembar siam itu sebagai bagian dari hidupku. Jika kategori2 itu tautologis, apakah masih perlu lagi berseru: ‘Jangan pragmatislah!’?

3 comments on “Antara Idealis dan Pragmatis

  1. Pragmatis itu bisa jsdi idealisme seseorang. Jadi orang pragmatis bisa jadi dia idealis. Karena menurutnya, pragmatis itu IDEAL buat dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.