Abai: Aspek epistemologis

S c r o l l D o w n

Abai merupakan gejala multidimensional. Untuk memudahkan pemahaman, abai bolehlah dimasukkan ke dalam domain psikologi. Meskipun sangat boleh pula dia ditengok dengan lensa keilmuan yang lain. Sebagai sebuah gejala psikososial dapat dikategorikan ke dalam 2 kategori: sadar dan tak sadar.

Abai sadar

Abai sadar merupakan sikap aktif yang diambil secara sengaja. Abai sadar cukup kecil cakupannya. Dia terbagi ke dalam beberapa kategori.

  1. Abai rasional. Sikap ini diambil setelah melalui pertimbangan rasional. Hal-hal yang dianggap tidak penting, sengaja diabaikan. Hal-hal yang dianggap penting, sengaja diprioritaskan. Abai rasional berimpit dengan berbagai kepentingan, seperti kepentingan ekonomi dan politik. Hal-hal yang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan, tentu saja mendapat perhatian penuh. Sedangkan hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan, dengan gampang diabaikan. Abai rasional ini labil, mudah berubah sesuai pengaruh lingkungan sekitar. Proses rasionalisasi manusia, baru berusia ratusan tahun sejak masa pencerahan, sehingga belum cukup matang menghadapi goncangan zaman.
  2. Abai emosional. Sikap ini diambil akibat dari trauma masa lalu. Hal-hal yang menyakitkan dan mengecewakan, sengaja diabaikan. Hal-hal yang menyenangkan, sengaja diakrabi. Abai emosional ini lebih stabil, karena proses pembentukan emosi manusia sudah dimulai sejak manusia belum menjadi homo sapiens. Sebagaimana yang sering kita saksikan dan buktikan, bahwa manusia adalah makhluk emosional. Berbagai keputusan manusia lebih dipengaruhi oleh aspek emosional ketimbang aspek rasional. Abai dan peduli secara emosional, lebih sulit diubah atau dibengkokkan. Sebab kita tak tak dapat mundur dalam waktu.

Abai tak sadar

Abai tak sadar merupakan sikap pasif akibat dari ketidaktahuan. Kita mengabaikan banyak hal karena kita tidak mengetahuinya, apalagi memahaminya. Abai jenis ini merupakan bentuk pengabaian yang luar biasa besar dan banyak. Hampir semua pengabaian merupakan bagian dari abai tak sadar ini. Sayangnya, abai tak sadar berupa terra incognita yang gelap dan tak terungkap. Abai tak sadar tidak terlalu dianggap penting karena belum dapat dipahami.

Peduli terhadap sesuatu berarti abai terhadap banyak suatu. Sadar atau tidak, kita semua telah mengabaikan banyak suatu. Hal itu wajar, lumrah, lazim dan kodrati. Bahwa konfigurasi dan kombinasi hal-hal yang kita pedulikan memiliki berbagai variasi, itu juga hal biasa. Sayangnya, (untuk menghindari penyebutan: sialnya) banyak orang sering menuduh orang lain abai, apatis, ignoran, tidak peduli, tidak berperasaan, dsb. Tanpa pernah menyadari – apalagi mengakui – bahwa mereka juga telah, sedang dan akan bersikap abai.

Menjadi manusia berarti menjalani kehidupan. Menjadi manusia berarti mengakui keterbatasan. Menjadi manusia, berarti meneliti seluk beluk hidupnya. Kehidupan yang tidak diteliti, tidak layak dihidupi. Ikhlaskah kita menerima abai dan peduli, sebagai bagian dari dinamika petualangan kita?